Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Part 1 "Hujan rinduku"

Gambar
(photo by google) “Selamat Ny. Nola putri anda cantik sekali...” Dokter itu melektakkan seorang bayi manusia dipelukkan Nola. Semua mata tertuju padanya. Cantiknya. Sungguh nikmat tuhan mana yang kau dustakan. Nola bersyukur bayi itu bisa lahir dari rahimnya. Tak ada cacat atau lecet sedikit pun. Kulitnya merah padam. Rambutnya sedikit pirang. Mulus sekali. Sungguh menggemaskan putri kecil Nola itu. Sesedikit bayi mungil itu merengek, iya meronta-ronta. Lidahnya ia julurkan sedikit-sedikit. Tubuhnya menggeliat-geliat. Sepertinya bayi itu ingin sesuatu. Tentu saja pasti ia lapar. Alangkah bodohnya jika Nola tak mengerti maksud dari rengekan kecil itu. “sayang. Aku sudah punya nama yang cantik untuk si pirang kita ini. Aku yakin kamu pasti suka.” Ujar Nola pada Mike. Matanya tak beralih. Hanya fokus pada bayinya yang tengah menyusu. Ia mengelus-elus lembut kepalanya. Menciuminya. Memeluknya. Seperti takut sekali ada orang yang akan menyentuh putri bungsunya itu. ...

Prolog "Hujan rinduku"

Gambar
(photo by google) Gelap. Kosong. Hampa. Tidak ada apa-apa. Ah tidak aku tidak bisa melihat. Aku dimana. Dimana aku sebenarnya. aku tidak ingat aku dimana. Tubuhku terasa ringan. Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Ini aneh, sungguh aneh. Tubuhku tidak dapat kugerakkan. Suaraku. Ah suaraku juga menghilang. Apa maksudnya ini semua. Dewi bulan aku butuh penjelasan. Mengapa. Mengapa kau lakukan ini padaku. Bahkan...aku tidak bisa merasakan air mataku menetes. Wahai dewi sebenarnya apa yang kau lakukan padaku. Aku tidak mau seperti ini. Aku takut. Aku sangat takut. Jangan perlakukan aku seperti ini dewi. Tolonglah aku. Aku takut sekali. ~ᴥ~

sinopsis "Hujan rinduku"

Gambar
(photo by google) Orang bilang muda itu bebas, bagai burung yang bisa terbang kemana saja. Orang bilang muda itu penuh fantasi, yang masih jauh akan realita yang di hadapi. Orang bilang muda itu ambisi, hanya tahu akhir bahagia sesuai ekspetasi. Mereka pikir muda itu adalah masa yang takkan terlupakan, hidup menyenangkan, bahagia, dan mendapat kasih sayang. Aku berbeda. Ku katakan sekali lagi. Aku berbeda. Dan bahwa aku sangat berbeda. Langit pun menangis, berteriak meronta-ronta seperti kesakitan. Aku memang bodoh terlahir seperti orang mati yang hidup kembali. Rambutku basah, tubuhku bahkan basah juga. Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Yang jelas aku rindu hujan. Dewi Bulan izinkan aku menjadi salah satu dari ribuan, ah tidak jutaan, bahkan milyaran, triliyunan air langit itu. Aku rindu. Rindu. sangat rindu. aku ingin kesana, menemuinya untuk memeluknya. Aku rindu waktu itu. Waktu dimana aku bisa merasakan tetesan air langit yang begitu men...